Lawan krisis kapitalisme (3) Saatnya Rakyat melatih diri untuk berkuasa…
Dari rangkaian kewajiban front persatuan dan membangun anti-tesa kegagalan sistem kapitalisme, maka tahapan selanjutnya adalah pertarungan terbuka dalam skema kekuasaan Negara, baik pada level tertinggi hingga level rendah. Sebab tanpa kemenangan secara politik, maka mustahil kemenangan secara ekonomi dapat kita peroleh. Seperti yang diutarakan Lenin berikut ini ;
Lawan krisis kapitalisme (2) Sosialisme jawabannya…
Pertama, Menempatkan Sosialisme Sebagai Slogan. Ditegah situasi krisis dunia yang kian akut, telah membuka peluang bagi kita untuk membuktikan bahwa jalan “Kapitalisme” telah gagal dalam mensejahterakan Rakyat diseluruh negeri. Ini tentu menjadi peluang bagi kita untuk mengkampanyekan secara luas tentang “Sosialisme” sebagai alternative jalan keluar. Begitu halnya dengan Kalimantan Timur, dimana kekayaan alam yang begitu melimpah, ternyata bukan sepenuhnya diperuntukkan bagi Rakyat Kalimantan Timur sendiri.
Lawan Krisis Kapitalisme (1) Bangun blok persatuan rakyat…
Krisis global yang terjadi hari ini, merupakan bukti nyata kegagalan Kapitalisme. Sistem yang telah bertahun-tahun menggerogoti rakyat ini sudah saatnya kita gantikan dengan sistem yang lebih baik, sistem yang secara prinsip mampu mengembalikan ketauladanan serta pengabdian secara utuh kepada rakyat Indonesia, dan kalimantan Timur pada khususnya. Lantas darimana kita harus memulai?. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan hari ini ;
Krisis global dan pengaruhnya terhadap Kalimantan Timur
Krisis global tentu saja turut memukul ekonomi lokal di Kalimantan Timur, terutama di sektor industri. Sektor perkayuan yang dulu pernah menjadi primadona di Kaltim, hari ini satu persatu rontok. Menurut data yang disebutkan oleh Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Disnakertrans Kaltim, Isran Napiah, “bahwa Dampak krisis global benar-benar menghantam sektor perkayuan di Kaltim. Akibatnya, sedikitnya 3.600 karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam setahun terakhir hingga Maret 2009, menyusul terhentinya sejumlah industri kayu lapis dan HPH di Kaltim”[1].
Kerontokan ekonomi domestik dan Menguatnya Opurtunisme Politik Elit Borjuasi
Krisis keuangan global memberikan efek negatif yang sangat luar biasa terhadap Indonesia. Hal ini ditandai dengan tingkat kekebalan sektor usaha dalam negeri (baca : industri) yang semakin rapuh. Hingga bulan februari 2009, angka PHK telah mencapai 33.444 orang[1]. Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja, Myra M Hanartani. Jumlah pekerja yang kena PHK berasal dari wilayah Sumatera Selatan, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, DI Yogyakarta, dan Papua.